Advanced Search
Hits
5916
Tanggal Dimuat: 2009/06/20
Ringkasan Pertanyaan
Apakah proses kesaksian Khuzaimah terkait dengan ayat terakhir surah al-Taubah itu benar adanya?
Pertanyaan
Apakah benar bahwa pada masa pengumpulan al-Quran untuk setiap ayat diperlukan dua saksi. Namun ayat terakhir surah al-Taubah saksinya hanyalah Khuzaimah. Zaid berkata catatlah ayat ini; karena Rasulullah Saw bersabda bahwa kesaksian Khuzaimah sebanding dengan kesaksian dua orang. Akan tetapi tatkala Umar membaca salah satu ayat dari surah al-Azhab terkait dengan rajam pria dan wanita pezina tidak diterima karena hanya satu orang yang mencatat ayat ini? (Kitâb al-Itqân, hal. 75)
Jawaban Global

Dengan memperhatikan adanya perbedaan dalam nukilan ini dan nama dua orang yaitu Khuzaimah bin Tsabit Anshari dan Abu Khuzaimah. Dari sisi lain, karena al-Quran harus dibuktikan dengan tawatur, riwayat-riwayat dan ucapan-ucapan ini tidak dapat dibenarkan dan dengan kesaksian satu orang atau dua orang al-Quran tidak akan dapat ditetapkan.

Di samping itu, dua ayat terakhir surah al-Taubah dengan kesaksian satu orang sebagai ganti dua orang tidak diterima, bahkan setelah kesaksian Khuzaimah, orang lain kemudian mengingat bahwa ayat ini adalah ayat al-Quran. Dari sisi lain, mengingat perhatian khusus Rasulullah Saw atas penghafalan al-Quran, bagaimana mungkin satu ayat mencukupi hanya didengarkan oleh satu orang bahkan apabila semua penulis wahyu juga telah gugur sebagai syahid, Imam Ali As masih ada sehingga dapat memberikan kesaksian! Karena itu nukilan dan kutipan seperti ini tidak dapat diterima.

Jawaban Detil

Sebelum menjelaskan benar atau tidaknya apa yang dikemukakan dalam pertanyaan, pertama-tama dengan mencermati beberapa pandangan yang mengemuka dalam hal ini dalam buku-buku Quranic Studies (‘Ulum al-Quran) seputar masalah ini kita dapat memberikan penilaian yang lebih baik:

  1. Zaid bin Tsabit yang merupakan petugas pengumpul al-Quran berkata, “Abu Bakar berkata kepadaku, “Kau pada masa Rasulullah Saw bertanggung jawab menulis wahyu. Maka sekarang engkau memikul tanggung jawab untuk mengumpulkannya.” Saya pun menerima permintaan Abu Bakar tersebut dan mengumpulkan al-Quran dari lembaran-lembaran, kertas-kertas dan gulungan-gulungan serta dari dada-dada (hafalan) orang-orang hingga dua ayat terakhir surah al-Taubah saya temukan pada Abi Khuzaimah al-Anshari dan ayat tersebut adalah, “laqad jaakum rasulun min anfusikum…”[1]
  2. Kharija bin Zaid bin Tsabit menukil, “Saya mendengar dari ayahku bahwa ia berkata, “Tatkala saya mengopi mushaf saya menghilangkan sebuah ayat dari surah al-Ahzab yang saya dengar sendiri dari Rasulullah Saw. Setelah mencari-cari (di beberapa tempat) saya menemukannya pada Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari dan kami gabungkan (ayat tersebut) dengan surah al-Ahzab yang berbunyi, “min al-mu’minin rijalun shadaqu ma ‘ahaduLlah ‘alaihi..”[2]
  3. Yahya bin Abdurrahman bin Khattab meriwayatkan, “Umar bin Khattab memutuskan untuk mengumpulkan al-Quran. Ia beridiri di tengah orang-orang dan berkata, “Barang siapa yang belajar al-Quran di sisi Rasulullah Saw maka bawalah al-Quran yang dipelajari tersebut dan orang-orang membawa al-Quran yang tertulis pada lembaran-lembaran dan kertas-kertas, namun Umar tidak menerima sepotong ayat dari siapa pun kecuali dua orang memberikan kesaksian bahwa ayat tersebut merupakan ayat al-Quran. Setelah Umar, Usman berkata kepada masyarakat, “Apabila ada pada setiap orang ayat atau ayat-ayat dari Kitabullah maka hadirkanlah. Namun ia juga tidak menerima satu pun omongan kecuali dengan kesaksian dua orang yang menyatakan dan membenarkan bahwa ayat tersebut merupakan ayat al-Quran. Pada saat itu, Khuzaimah bin Tsabit datang dan berkata, “Saya melihat dengan mata kepala sendiri Anda menyingkirkan dua ayat dari al-Quran dan tidak menulisnya.” Mereka berkata, “Dua ayat yang mana?” Kata Khuzaimah, “Saya sendiri belajar dari Rasulullah Saw dua ayat tersebut kemudian ia membaca dua ayat terakhir surah al-Taubah, “Laqad ja’akum rasulun min anfusikum ‘azizun ‘alaihi ma anittum..” Usman yang mendengar ayat ini dari Khuzaimah berkata, “Aku bersaksi bahwa dua ayat ini turun dari sisi Allah Swt. Baiknya menurut Anda ayat ini kita tempatkan pada surah mana dalam al-Quran?” Khuzaimah berkata, “Tempatkan dua ayat ini pada surah terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah Saw! Demikianlah dua ayat ini digabungkan sebagai akhir surah al-Taubah dan mengakhiri surah tersebut dengan dua ayat yang dimaksud.[3]
  4. Ubaid bin Umair berkata, “Umar tidak menulis satu pun ayat dalam mushaf kecuali dua orang ini memberikan kesaksian bahwa ayat tersebut adalah ayat al-Quran.”[4] Seseorang dari Anshar membawakan dua ayat ini, “laqad ja’akum rasulun min anfusikum..” Umar berkata, “Terkait dengan ayat tersebut saya tidak menginginkan saksi darimu; karena akhlak Rasulullah Saw sebagaimana apa yang disebutkan pada dua ayat ini.[5]
  5. Khuzaimah bin Tsabit menukil demikian bahwa saya membawakan ayat, “laqad ja’akum rasulun min anfusikum..” ke hadapan Umar dan Zaid bin Tsabit. Zaid berkata, “Apakah ada seseorang yang memberikan kesaksian kepadamu?” Saya berkata, “Demi Allah saya tidak tahu.” Umar berkata, “Saya memberikan kesaksian baginya terkait dengan ayat ini.”[6]
  6. Zaid bin Tsabit berkata, “Tatkala saya menulis mushaf, saya mendengar satu ayat dari Rasulullah Saw, saya tidak jumpai pada seseorang atau pada catatan. Kemudian saya menemukannya pada Khuzaimah bin Tsabit dan ayat tersebut adalah, “min al-mu’minin rijalun shadaqu…” dan karena Rasulullah Saw menerima kesaksian Khuzaimah sebagai ganti kesaksian dua orang dan menyebutnya sebagai “dzu al-syahadatin” saya juga menerima kesaksiannya seorang diri dan dengan kesaksian, saya menulis ayat tersebut.[7]
  7. Ibnu Asytah menukil dari Laits bin Sa’id, “Orang pertama yang mengumpulkan al-Quran adalah Abu Bakar dan penulisnya adalah Zaid bin Tsabit. Orang-orang yang menyimpan ayat-ayat al-Quran membawanya ke hadapan Zaid namun ia tidak menerimanya kecuali dengan kesaksian dua orang jujur, dapat dipercaya dan Zaid bin Tsabit tidak menemukan dua ayat terakhir surah al-Taubah, kecuali pada Khuzaimah, namun ia tidak memiliki saksi yang membenarkan ucapannya. Namun demikian Abu Bakar memerintahkan untuk menulis; karena Rasulullah Saw menerima kesaksiannya sebagai ganti kesaksian dua orang dan ayat tersebut ditulis. Umar juga membawakan ayat rajam namun karena ia tidak memiliki saksi, ayat tersebut tidak ditulis.[8]

 

Demikianlah beberapa riwayat sehubungan dengan proses pengumpulan al-Quran khususnya terkait dengan dua ayat terakhir surah al-Taubah.

Dengan mencermati riwayat-riwayat ini menjadi jelas bahwa sebagian dari riwayat tersebut menegaskan bahwa dua ayat ini dibawakan oleh Abu Khuzaimah namun riwayat-riwayat lain menyebutkan bahwa yang membawakan dua ayat tersebut adalah Khuzaimah bin Tsabit. Ibnu Abdulbar dalam hal ini berkata, “Khuzaimah dan Abu Khuzaimah adalah dua orang dan masing-masing merupakan orang yang terpisah dan di antara mereka tidak terdapat hubungan kekerabatan dan kekeluargaan sama sekali.[9]

Adapun terkait dengan pernyataan bahwa dua ayat tersebut merupakan ayat al-Quran riwayat-riwayat terbagi menjadi tiga bagian: Mengikut sebagian orang, bahwa dua ayat ini merupakan bagian dari ayat-ayat al-Quran hanya ditetapkan oleh kesaksian satu orang namun dalam riwayat lain ditambahkan dengan kesaksian Usman dan pada riwayat lainnya kesaksian Umar ditambahkan pada kesaksian orang pertama.

Poin yang patut mendapat perhatian adalah bahwa kaum Muslimin bersepakat dalam dua hal. Pertama bahwa tiada satu pun perkataan seseorang yang dapat ditetapkan sebagai al-Quran kecuali melalui jalan tawatur dan nukilan-nukilan yang mendatangkan keyakinan. Kedua bahwa tidak ada jalan bagi penambahan dalam al-Quran namun riwayat-riwayat kodifikasi yang menjadi obyek pembahasan kita berbeda dan bertentangan dengan dua masalah konsensus ini.

Dengan kata lain, seluruh kaum Muslimin berpandangan bahwa untuk menetapkan sebuah ucapan atau tuturan itu al-Quran tidak lain kecauli melalui tawatur, nukilan-nukilan yang banyak dan meyakinkan. Namun sehubungan dengan riwayat-riwayat kodifikasi al-Quran menunjukkan bahwa pada waktu pengumpulan al-Quran satu-satunya kriteria dan pakem untuk menetapkan sebuah ucapan atau tuturan itu adalah al-Quran, yang berada di tangan dan dengan perantaranya, ayat-ayat al-Quran selain yang telah diidentifikasi, adalah kesaksian dua orang Muslim dan terkadang seseorang  yang kesaksiannya sebanding dengan kesaksian dua orang. Kemestian perkataan ini adalah bahwa al-Quran ditulis dengan kabar tunggal (khabar wahid) bukan melalui jalan tawatur! Apakah kaum Muslimin benar-benar dapat mengamalkan hal ini? Atau mengungkapkan hal ini? Kita tidak tahu validitas riwayat-riwayat yang menunjukkan penetapan al-Quran melalui kabar tunggal atau kesaksian dua orang atau satu orang, sesuai dengan ijma dan keyakinan seluruh kaum Muslimin yang menyatakan al-Quran tidak dapat ditetapkan kecuali melalui jalan tawatur dan jalan lain? Apakah definitifnya bahwa al-Quran harus ditetapkan melalui jalan tawatur bukan melalui kabar tunggal dan kesaksian dua orang tidak dapat menjadi dalil bahwa seluruh riwayat ini adalah riwayat dusta?[10]

 

Pandangan Valid tentang Kodifikasi al-Quran

Apa yang secara ringkas dapat dikatakan pada kesempatan ini adalah bahwa penyandaran pengumpulan al-Quran kepada para khalifah dan masa-masa pasca Rasulullah Saw merupakan sebuah perkara klaimitis dan kabur, keliru dan tanpa dasar yang bertentangan dengan al-Quran, sunnah, ijma dan  akal. Para pendukung konsep distorsi tidak dapat melalui jalan ini, dapat menetapkan pandangan keliru dan tanpa dasar mereka, karena al-Quran telah dikumpulkan pada masa Rasulullah Saw sendiri dan sesuai dengan perintah dan pengawasan beliau.

Apabila, anggaplah kita menerima, bahwa Abu Bakar yang mengumpulkan al-Quran pada masa khilafahnya, maka proses pengumpulannya sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat di atas tentu saja dusta; karena pengumpulan al-Quran berpijak di atas keyakinan dan qath. Artinya ayat-ayat al-Quran karena tawatur dan nukilan-nukilan yang banyak telah dikenal di kalangan kaum Muslimin. Dan ayat-ayat definitif dan telah dikenal di hati-hati kaum Muslimin dan mereka mengenal dan akrab denganya, telah dimasukkan dalam al-Quran dan dikumpulkan pada satu tempat.

Benar, tidak dapat diragukan bahwa Usman pada masa khilafahnya mengumpulkan al-Quran namun hal itu tidak bermakna bahwa surah-surah dan ayat-ayat al-Quran dikodifikasi dalam satu mushaf dan dihimpun dalam sebuah mushaf tunggal dari lembaran-lembaran yang berserakan. Makna pengumpulan al-Quran pada masa Usman bermakna bahwa ia menyatukan satu bacaan tunggal dan membakar seluruh al-Quran lainnya yang tidak sesuai dengan bacaan yang diinginkan. Dengan demikian, ia melarang segala bentuk bacaan yang beragam dan perbuatan ini secara terminologis disebut sebagai tauhid al-mashâhif (penyatuan mushaf-mushaf). [iQuest]

 

Untuk telaah Lebih Jauh silahkan lihat beberapa literatur berikut:

  1. Al-Bahr al-Muhith fi  al-Tafsir, Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf Andalusi, jil. 5, hal. 535.
  2. Al-Bayân fi Tafsir al-Qurân, Sayid Abu al-Qasim Khui, hal. 240.
  3. Al-Mizân, Terjemahan Persia, Musawi Hamadani, jil. 12.

 


[1].  Hasyim Zadeh Harisyi, Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 303, Qum, Kitabpurusyi Najafi, Tanpa Tahun.

[2]. Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 304.

[3]. Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 305.

[4].  Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 306.

[5]. Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 307.

[6]. Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 308.

[7]. Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 312.

[8]. Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 320.

[9]. Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 323.

[10]. Bayân dar Masâ’il Qur’ân, hal. 324.

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa hukumnya meminum kopi Luwak?
    4275 Hukum dan Yurisprudensi 2012/07/26
    Secara umum kencing dan kotoran manusia serta hewan yang haram dagingnya untuk dimakan dan memiliki darah yang mengucur tatkala disembelih adalah najis dan tidak dapat disucikan demikian juga tidak boleh meminumnya (atau memakannya). Namun para juris meyakini barang-barang seperti biji kurma atau biji ceri yang terkadang dikunyah dan tanpa perubahan ...
  • Apa yang harus menjadi keyakinan dasar dan asasi seorang Muslim?
    5448 Neo-Teologi 2009/12/30
    Setiap orang yang menyatakan dua kalimat syahadat, "Asyhadu anla Ilaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah," maka ia termasuk seorang Muslim. dan hukum-hukum sebagai seorang Muslim berlaku padanya. Badannya suci (thahir) dan anak-anaknya juga suci. Pernikahannya dengan seorang wanita muslimah dan transaksinya dengan seorang muslim adalah sah dan legal. Harta, ...
  • Apakah kaitan antara irfan dan pengenalan jiwa?
    1598 Irfan Teoritis 2013/08/15
    Irfan terbagi dalam dua cabang: irfan teoritis dan praktis. Kedua cabang irfan ini berkaitan erat dengan pengenalan jiwa. Karena dari satu sisi, yang dibahas dalam irfan teoritis adalah penyaksian Hak, sedangkan dari sisi lain, jiwa yang paling sempurna adalah manifestasi Hak, dan penyaksian Hak hanya akan dihasilkan melalui pengenalan jiwa ...
  • Apakah Allah Swt itu bukan mahram dengan perempuan sehingga mereka harus mengenakan hijan ketika salat?
    8 Filsafat Hukum 2015/04/18
    Tak diragukan lagi bahwa Allah Swt Maha Mengetahui segala keadaan. Bagi-Nya tidak ada yang dinamakan pengenalan atau penyembunyian. Karena tiada sesuatu yang tersembunyi bagi Allah Swt. Allah Swt juga bukan non mahram bagi para hamba-Nya, bahkan sebaliknya manusia ketika beribadah maka ia berada dalam keadaan presentif (hudhuri) Tuhan dan berbincang-bincang ...
  • Apakah orang-orang yang mendiami barzakh juga mengalami peristiwa Kiamat? Bagiamanakah kondisi mereka pada waktu itu?
    10513 Teologi Klasik 2010/03/02
    Di antara sesuatu yang pasti disebutkan dalam al-Qur’an adalah bahwa di alam (pasca kehidupan dunia) terdapat dua kali tiupan. Tiupan pertama terjadi ketika usia dunia telah usai dan akibat tiupan ini seluruh makhluk hidup di muka bumi akan binasa. Pada tiupan selanjutnya adalah tiupan kehidupan dimana seluruh manusia akan hidup ...
  • Apa hikmah pelarangan pengucapan amin dalam salat?
    5290 Hukum dan Yurisprudensi 2012/05/19
    Tidak dibolehkan pengucapan amin dalam salat berdasarkan hadis Ahlulbait As dan mengucapkannya menyebabkan batalnya salat. Di samping itu, kita tidak membutuhkan dalil untuk menetapkan ketidakbolehannya. Hal itu berarti bahwa salat adalah sebuah perintah ibadah dan tidak dibolehkan bagi seseorang menambahkan sesuatu ke dalam salat, jika tidak ada penegasan pembolehan penambahan ...
  • Menurut Fikih Islam, apa saja jalan penyaluran sedekah dan apakah bersedekah kepada sayid itu haram hukumnya?
    5825 Hukum dan Yurisprudensi 2013/05/25
    Dalam Fikih Islam, kita dapat menyalurkan zakat (sedekah) di delapan tempat: Pertama: Fakir, yaitu orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya dalam setahun. Karena itu orang yang memiliki aset dan usaha yang bisa memenuhi kebutuhan hidup setahunnya bukanlah orang fakir. Kedua: Miskin, yaitu orang yang lebih susah dari pada fakir ...
  • Apakah mengucapkan takbir dan menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri selepas salat itu ada dalilnya?
    2772 Hukum dan Yurisprudensi 2012/02/08
    Menolehkan wajah ke kanan dan ke kiri merupakan salah satu amalan mustahab (dianjurkan) untuk dikerjakan selepas salam terakhir salat. Anjuran ini juga disinggung dalam kitab-kitab riwayat. Tata cara pelaksanannya dengan benar adalah sebagai berikut: 1.     Apabila orang yang melakukan salat itu adalah imam jamaah, maka selepas salam, sebelum berpaling dari ...
  • Apa hukumnya hubungan suami istri melalui dubur jika istri merelakan?
    15 Hukum dan Yurisprudensi 2015/04/18
    Para marja taklid berkata: Hukum memasukkan lewat dubur adalah makruh yang sangat berat (syadid).[1] Makruh berat artinya bahwa hal ini tidak disukai Tuhan dan lebih baik jika tidak dilakukan, namun tidak ditulis dosa bagi pelaku perbuatan ini. Harus diperhatikan bahwa terkait memasukkan lewat dubur, apabila seorang istri tidak rela, maka tidak ...
  • Apakah qunut dalam salat itu wajib hukumnya?
    2865 Hukum dan Yurisprudensi 2011/11/08
    Dianjurkan (mustahab) bagi orang yang mengerjakan salat untuk melakukan qunut pada setiap salat wajib dan sunnah (mustahab) sebelum rukuk pada rakaat kedua. Karena itu, membaca qunut pada setiap salat adalah mustahab hukumnya bukan wajib.[1] [IQuest] [1]. Taudhih al-Masâil Marâji’, jil. 1, hal. 603, Masalah 1117. Untuk telaah lebih jauh silahkan ...

Populer Hits

  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    175005 Teologi Klasik 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia yang disebut sebagai “insan atau Nsnas” ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    142033 Teologi Klasik 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga permulaan kiamat ia ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    127893 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    100782 تاريخ بزرگان 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan maqam penghambaan, ilmu ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    99381 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik nikah daim (tetap) ataupun mut’ah (sementara). Hal itu dapat dilakukan dengan syarat-syaratnya ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    92535 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    83560 تاريخ بزرگان 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa. Buntut dari pengepungan ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    79803 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya (musytaq) dalam Al-Qur’an digunakan sebanyak 13 makna.Doa merupakan sebuah bentuk ibadah, karena itu ia juga memiliki syarat-syarat positif ...
  • Apakah ada ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kaum Israel dan Palestina?
    65807 Tafsir 2013/10/26
    Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa “negara” Israel tidak memiliki sejarah yang panjang. “Negara” Israel berdiri pada beberapa dasawarsa terakhir dengan mencaplok tanah Palestina. Kawasan ini bernama Palestina dan Suriah yang telah dikenal sebelumnya dalam sejarah. Adapun tentang wilayah Palestina sebagian ahli tafsir berkata, “Yang dimaksud dengan tanah suci pada ayat berikut ...
  • Apakah suami dan isteri diwajibkan mengenakan pakaian ketika melakukan senggama?
    57854 Akhlak Praktis 2010/10/12
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda memilih jawaban detil. ...

Jejaring